Satu Antrean di Depan Ruzaidin Noor
==================
SAAT mulai menulis coretan ini sebenarnya saya agak khawatir dengan anggapan banyak orang yang mungkin menuduh saya sedang ingin mempengaruhi orang untuk memilih Ruzaiddin menjadi walikota kembali. Bukan, sama sekali bukan. Saya hanya ingin berbagi hikmah. Dari sebuah sikap mulia yang harusnya dapat dijadikan contoh oleh siapapun di kolong langit ini.
Kisah seseorang yang sedang berada di puncak karir gemilangnya, namun tidak lantas angkuh, dan tetap rendah hati. Padahal di posisinya sekarang untuk menjadi tinggi hati sekalipun, orang akan tetap bisa memakluminya. Tapi dia tidak mengambil sikap ini. Dia justru mengambil jalan sunyi, untuk tetap menjadi biasa-biasa saja dan menganggap jabatan mewah yang tersampir di pundaknya bukanlah sesuatu yang dapat membuat jarak antara dirinya dengan manusia lain.
Pantaslah, sebagian orang pernah bilang, Ruzaiddin itu sesosok orang yang terus mencoba menjadi malaikat untuk orang sekitarnya. Memang bukan selalu untuk menolong, tetapi seorang malaikat yang menginspirasi banyak orang.
Ada peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, ketika sedang antre di sebuah bank dekat SPBU COCO Banjarbaru. Sebelum pindah ke tempatnya yang sekarang di km 34, bank tersebut memang selalu bikin kesal. Bukan saja karena area parkirannya yang selalu penuh sampai memakan badan jalan dan membuat macet lalu lintas ketika melewati jalur itu, tapi juga antrean nasabahnya yang panjang dan membuat kesal setiap orang yang sedang berurusan di bank tersebut. Tentu saja saya salah satunya. Saya salah satu nasabah yang sempat kesal lantaran antrean yang selalu mengular.
Untuk berurusan menarik atau menyetor uang saja, semua nasabah harus rela berdiri mengantre. Iya, berdiri, berbaris seperti masa anak-anak bermain permainan ular naga. Tidak duduk di kursi seperti sekarang, sambil memegang kupon antrean dan menunggu nomor kita dipanggil. Untuk menyetor atau menarik uang yang sebenarnya adalah uang mereka sendiri saja sampai harus mengantre sedemikian rupa, kayak rakyat yang hidup di orde lama dulu yang saya pernah lihat di layar televisi atau film dokumentasi nasional, yang mempertontonkan pemandangan orang-orang berkain tepung yang antre beras.
Saya maklum, ketika itu kondisi perekonomian Indonesia sedang morat-marit tidak karu-karuan. Tapi sekarang beda urusan, kondisinya sama sekali tidak seburuk itu. Mereka yang mengantre ke bank itu, tentu saja orang yang berurusan dengan uang mereka sendiri. Sebagian besar malah orang kaya, berduit. Apalagi ketika itu, seingat saya sekitar tahun 2012, bukanlah berada dalam kondisi krisis, dimana ekonomi berjalan cukup baik, normal dan stabil. Tapi ini kok masih ada antrean, bahkan untuk urusan menabung uang. Ini sungguh keterlaluan menurut saya.
Tapi apa boleh buat, saya toh tetap ikut antrean. Namanya juga antre, datang belakang, harus rela mengantre di urutan paling belakang. Yang lebih membuat saya ngilu itu, antrean di depan saya, panjangnya minta ampun. Kalau saya hitung-hitung, ada sekitar 14 orang di depan saya. Kondisi ruangan yang sempit membuat pengantre harus rela berbaris berkelok-kelok mengikuti pita merah yang dipasang petugas bank.
Sesuatu yang membuat sabar hanyalah paras-paras menarik petugas bank yang selalu mengumbar senyum dan AC ruangan berpewangi yang terus hidup. Untuk membayangkan listrik dan AC yang mendadak padam saja sungguh dapat membuat saya lemas dan menyerah.
Kondisi yang serba menjemukan itu tak ayal membuat saya jadi mengkhayal yang bukan-bukan. Misalnya membayangkan enaknya jadi pejabat atau orang penting. Kalau saya pejabat, tentulah tak perlu sampai mengantre sedemikian. Atau mungkin asyik juga seandainya menjadi orang kaya atau menjadi nasabah utama bank ini. Baru memarkir mobil saja sudah disambut terbungkuk-bungkuk oleh sekuriti dan pimpinan bank. Tak perlu capek-capek antre seperti ini.
Tapi itu tentu saja bukanlah khayalan yang mudah diwujudkan. Apalagi ketika melihat saldo di buku tabungan yang tidak lebih satu juta. Satu-satunya yang paling memungkinkan orang konyol seperti saya adalah menjadi Mr Bean. Anda pasti tahu dengan orang ini, bukan. Tokoh yang kalau main filmnya itu tak pernah ngomong. Seseorang yang diceritakan jatuh dari planet antah berantah yang selalu bertindak konyol dan tidak jarang malah beruntung dengan kekonyolannya itu.
Dalam serial filmnya yang pernah tayang di sejumlah televisi dan pernah juga saya tonton di youtube, ada cerita tentang Mr Bean yang sedang antre di sebuah bioskop. Dia berada di barisan paling belakang untuk mengantre tiket. Karena ingin terburu-buru, Mr Bean berusaha mengakalinya dengan mengerjai pengantre di depannya. Entah itu dengan mencolek, merenggut barang bawaan pengantre di depannya, atau hal-hal usil lainnya yang dapat memecah konsentrasi para pengantre, sehingga dia dapat mudah menyalip posisinya sedikit demi sedikit. Begitu terus, dengan tingkah menggelikan yang cerdas, Bean sukses merangsek sedikit demi sedikit ke depan, dan berhasil menjadi berada di antrean terdepan.
Saya pikir, trik Mr Bean inilah yang paling pas untuk saya, tanpa perlu menjadi nasabah terkaya, atau menjadi pejabat yang berkuasa. Saya cukup menjadi Mr Bean, ya Mr Bean, dengan mengusili pengantre lainnya, sedikit demi sedikit merengsek maju ke depan. Tapi tunggu dulu, saya tetap harus waspada. Kalau saya saja mampu berkhayal seperti ini, orang yang di belakang saya pun pasti bisa juga. Jangan sampai saya justru yang jadi korban.
Manusiawi, sebagai bagian dari upaya pertahanan diri dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, oleh “Mr Bean” lain di belakang saya, saya perlu melakukan teknik khusus yang tidak terlalu sukar dilakukan, yang harus saya lakukan sealami mungkin. Dengan sedikit memiringkan badan, saya mencoba menengok ke belakang untuk mempelajari keadaan. Dan, astaga! Saya kaget bukan main. Di belakang saya, mengantre orang yang paling terkenal dan dihormati di kota ini. Walikota Ruzaidin.
Khayalan saya tentang beragam cara licik untuk menghancurkan barisan antrean demi untuk mempercepat maju ke antrean terdepan, buyar seketika. Hanya karena mengetahui, orang yang berada tepat di belakang saya ternyata walikota. Walikota yang terlihat begitu sabar mengantre. Padahal kalau dia mau, bisa saja meminta pegawai atau pimpinan bank untuk memberikan pelayanan istimewa kepadanya. Atau menyuruh ajudannya menggantikan dia antre. Agar ketika pas berada di depan kasir yang cantik-cantik itu, dia yang kemudian melanjutkan tanpa capek mengantre. Namun sang ajudan malah terlihat santai, berbincang-bincang dengan sekuriti di pintu masuk ruangan.
Sebagai warga kota yang tahu sopan santun, dan masih memiliki sedikit tata krama, saya menganggukkan kepala, menyalami dan mempersilakan beliau bertukar tempat dengan saya. Tapi dia hanya senyum. “Sesuai antrean saja,” katanya tegas.
Karena suara saya sedikit gaduh, beberapa orang di bank, terutama mereka yang antre di depan saya turut menengok, dan sama-sama terkejut, ternyata ada Pak Wali di belakang. Banyak juga yang kemudian menyalaminya dan berbuat seperti saya, merelakan antreannya untuk sang walikota. Tapi juga ditolaknya. Sebuah sikap yang serasa menampar muka saya.
Jauh sebelum saya menuliskan cerita ini, saya pernah juga menuturkannya pada seorang teman. Dan ternyata dia punya pengalaman yang lebih menarik. Memang masih seputar antrean.
Kata dia, dia mendapat cerita ini dari adiknya yang seorang dokter. Suatu ketika, Ruzaidin pernah berobat ke rumah sakit. Dan seperti sikapnya di bank, dia juga ikutan antre di loket pendaftaran, turut menunggu sampai namanya dipanggil untuk cek kesehatan di rumah sakit. Padahal, sebagai seorang kepala daerah, dia cukup menelepon kepala rumah sakit untuk membawanya ke ruangan khusus dan cek up di sana. Atau cukup memerintahkan kepala dinas kesehatan atau kepala rumah sakit untuk mengirimkan dokter terbaik memeriksa kesehatannya di rumah. Tapi entah mengapa itu tidak dilakukannya. Dia rela capek antre dengan wajah sedikit pucat karena sakit, dan duduk di kursi antrean yang terbuat dari alumunium. Dan sang dokter, adik teman saya itu, yang mengetahui kehadiran walikota, langsung tergopoh-gopoh mendatangi sang walikota.
Adik teman saya itu “memaksa” masuk ke sebuah ruangan untuk menjalani cek up. Tapi ditolaknya. Dia memilih antre seperti kebanyakan yang dilakukan warganya. Suasana pun mendadak ramai. Hampir semua pasien dan keluarganya berebut menyalami dan berbincang-bincang.
Cerita tentang sikap mulia seperti inilah yang ingin saya bagi, menceritakannya kepada Anda-Anda. Bukan bermaksud untuk mempengaruhi pilihan Anda di saat Pilkada nanti. Saya pun yakin, Anda tentu sudah memiliki pilihan sendiri. Saya pun, walaupun sempat terkagum dengan sikap rendah hati Ruzaidin, belum tentu di bilik suara, saya memilih dia. Saya hanya berharap begini, sikap ini juga bisa ditiru calon kepala daerah lainnya. Tepat tertib dan mau antre, membaur dengan warganya dari berbagai kalangan. Tanpa ingin meminta fasilitas istimewa, walaupun di posisi yang sebenarnya bisa melakukan apa saja.
Demikian. Saya telah belajar banyak hikmah dari kerendahan hati seorang Ruzaidin. Dan pernah berbangga, bahwa saya pernah berada di depan dan membelakangi seorang paling berkuasa di kota saya, hehehe...()
Sumber : http://wcpria.blogspot.co.id





![[Info Grafis] Ruzaidin Noor - Fitri Zamzam Satu-satunya Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru yang Didukung Partai Peraih Kursi Terbanyak di DPRD PASANGAN Ruzaidin Noor - Fitri Zamzam adalah satu-satunya pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru 2016-2021 yang diusung partai politik peraih 50 persen kursi di DPRD Kota Banjarbaru. Dukungan partai peraih kursi terbanyak ini menjadi jaminan bakal mulusnya roda pemerintahan dan terlaksananya program-program Ruzaidin Noor - Fitri Zamzam setelah menjadi Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru nanti.](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmH8sHJK5IJN9ad880OOKYFsxrJLIAkAkZfIsw174Pf6vgtrEWKKySbYPu-q1g8_aYoNqMgD3ozdVgyWe-eYrPKrOVN4NacXCjX-HCRl0X-QRT50y8-S7WpYLAAOz_-8u46rgz7ejJUJ0/s640/Info-Graphic-Partai-Pendukung-Ruzaidin-Noor---Fitri-Zamzam.jpg)



![Profil Ruzaidin Noor dan Fitri Zamzam Calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru 2016-2021 Berkarya untuk Perubahan Banjarbaru Lebih Baik RUZAIDIN Noor dan Fitri Zamzam adalah pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru 2016-2021 ini juga dikenal dengan panggilan Dodot-Dewa. Bersama memiliki visi mewujudkan Banjarbaru Kota Insan Humanis yang unggul di semua sektor khususnya sektor Industri, Jasa, dan Perdagangan yang Harmonis, Unggul, Mandiri dan Dinamis. Lahir dari latar belakang Birokrat dan Politisi yang sarat dengan jiwa sosial, jujur, bersih, dan berpengalaman. Drs H.M Ruzaidin Noor, MAP lahir di Martapura, 22 Desember 1951. Beragam Islam, pendidikan terakhirnya S2. Suami Hj Hartati ini dikaruniai tiga orang anak. Selama ini ia menjalani hidup di rumah mungilnya di Jl Taman Gembira Selatan RT05/01 Banjarbaru. Ruzaidin Noor adalah seorang birokrat. Pada 1994-1998 ia pernah menjabat sebagai Asisten Administrasi Setkodati II Banjarmasin. Pada 1998-1999 ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Administrasi Pembangunan Setkodati II Banjarmasin. Sekitar 1999 ia mendapat tugas baru sebagai Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru hingga tahun 2005. Sosoknya yang bersih dan jujur bertanggungjawab membuat karirnya terus menanjak. Hingga pada pertengahan 2005 ia dipinang H Rudy Resnawan untuk mendampinginya maju sebagai Wakil Walikota Banjarbaru hingga 2010. Pada pertengahan 2010, sewaktu masa jabatannya hendak berakhir, ia didesak masyarakat dari berbagai kalangan agar maju melanjutkan kepemimpinan di Kota Banjarbaru. Desakan dan permintaan warga itulah yang membuat Ruzaidin pun tak bisa mengelak, dan kemudian maju bersama Ogi Fajar Nuzuli kala itu. Setelah berhasil membangun Banjarbaru hampir lima tahun, Ruzaidin pun lagi-lagi didesak warga untuk melanjutkan kepemimpinannya. Alasannya, karena Ruzaidin Noor dianggap berhasil membangun Banjarbaru. Diantara keberhasilan Ruzaidin Noor adalah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp28,5 miliar lebih pada 2010 menjadi Rp122 miliar lebih pada 2014. Selama kurun waktu empat tahun terjadi kenaikan 400 % lebih. Ruzaidin Noor juga dianggap berhasil meningkatkan Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dari Rp460, 7 miliar lebih pada 2010 naik menjadi Rp1,2 triliun pada 2015. Dalam kurun waktu lima tahun terjadi kenaikan 275 % lebih. Dengan keberhasilan tersebut, ia pun mampu mendistribusikan dan mendanai pembangunan disegala bidang dan roda pemerintahan dengan sangat baik di Banjarbaru. Alasan inilah yang menjadi salah satu faktor masyarakat mendesaknya kembali maju bersama Fitri Zamzam. Figur pemuda yang selalu peduli dan mendukung aktifitas anak-anak muda dalam berkarya dan berkreatifitas. Fitri Zamzam juga adalah sosok yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Baik melalui komunitas MGR, partai NasDem maupun kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Fitri Zamzam SSos MAP lahir di Kandangan, 15 Mei 1957. Suami Megawati SPd ini tinggal di Jl A Yani No.1A Kelurahan Guntung Paikat Banjarbaru. Ayah tiga orang anak ini adalah mantan PNS kantor Pertanahan pada 1980-2012. Anggota DPRD Kota Banjarbaru periode 2014-2019 ini dikenal organisatoris. Selain memimpin partai NasDem, ia juga apernah menjadi Sekretaris Ormas Nasional Demokrat pada 2012-2013. Pada 2008-2013 ia juga didaulat memimpin Percasi. Dan sejak 1978 hingga sekarang, lelaki yang akrab disapa Dewa Pahuluan ini juga dikenal sebagai Presiden Komunitas MGR. Ruzaidin Noor dan Fitri Zamzam maju dalam kancah politik Pilkada 2015 sebagai pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Banjarbaru 2016-2021. Dengan tagline berKARYA untuk PERUBAHAN, pasangan yang juga dikenal dengan 2D (Dodot-Dewa) ini bercita-cita mewujudkan Banjarbaru Kota Insan Humanis (Industri, Jasa dan Perdagangan yang Harmonis, Unggul, Mandiri dan Dinamis). [] Tim Ruzaidin Center](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja6E1oA1jkgo8B6d6cnhhdImzHVHo5FoFMGi4Px-o1ft-2aUubLqh4cAHRkBcMCycoivHoXnaCyutdjAkToahCIcMGo8P2WAVFgMpGUOJRYN7gUFrAHXIe-Eept44Uvup3B9357y1k3u4/s640/Ruzaidin-Noor-dan-Fitri-Zamzam-Berkarya-Untuk-Perubahan-Banjarbaru-Lebih-Baik.jpg)
![Profil Ruzaidin Noor dan Fitri Zamzam Calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru 2016-2021 Berkarya untuk Perubahan Banjarbaru Lebih Baik RUZAIDIN Noor dan Fitri Zamzam adalah pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru 2016-2021 ini juga dikenal dengan panggilan Dodot-Dewa. Bersama memiliki visi mewujudkan Banjarbaru Kota Insan Humanis yang unggul di semua sektor khususnya sektor Industri, Jasa, dan Perdagangan yang Harmonis, Unggul, Mandiri dan Dinamis. Lahir dari latar belakang Birokrat dan Politisi yang sarat dengan jiwa sosial, jujur, bersih, dan berpengalaman. Drs H.M Ruzaidin Noor, MAP lahir di Martapura, 22 Desember 1951. Beragam Islam, pendidikan terakhirnya S2. Suami Hj Hartati ini dikaruniai tiga orang anak. Selama ini ia menjalani hidup di rumah mungilnya di Jl Taman Gembira Selatan RT05/01 Banjarbaru. Ruzaidin Noor adalah seorang birokrat. Pada 1994-1998 ia pernah menjabat sebagai Asisten Administrasi Setkodati II Banjarmasin. Pada 1998-1999 ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Administrasi Pembangunan Setkodati II Banjarmasin. Sekitar 1999 ia mendapat tugas baru sebagai Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru hingga tahun 2005. Sosoknya yang bersih dan jujur bertanggungjawab membuat karirnya terus menanjak. Hingga pada pertengahan 2005 ia dipinang H Rudy Resnawan untuk mendampinginya maju sebagai Wakil Walikota Banjarbaru hingga 2010. Pada pertengahan 2010, sewaktu masa jabatannya hendak berakhir, ia didesak masyarakat dari berbagai kalangan agar maju melanjutkan kepemimpinan di Kota Banjarbaru. Desakan dan permintaan warga itulah yang membuat Ruzaidin pun tak bisa mengelak, dan kemudian maju bersama Ogi Fajar Nuzuli kala itu. Setelah berhasil membangun Banjarbaru hampir lima tahun, Ruzaidin pun lagi-lagi didesak warga untuk melanjutkan kepemimpinannya. Alasannya, karena Ruzaidin Noor dianggap berhasil membangun Banjarbaru. Diantara keberhasilan Ruzaidin Noor adalah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp28,5 miliar lebih pada 2010 menjadi Rp122 miliar lebih pada 2014. Selama kurun waktu empat tahun terjadi kenaikan 400 % lebih. Ruzaidin Noor juga dianggap berhasil meningkatkan Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dari Rp460, 7 miliar lebih pada 2010 naik menjadi Rp1,2 triliun pada 2015. Dalam kurun waktu lima tahun terjadi kenaikan 275 % lebih. Dengan keberhasilan tersebut, ia pun mampu mendistribusikan dan mendanai pembangunan disegala bidang dan roda pemerintahan dengan sangat baik di Banjarbaru. Alasan inilah yang menjadi salah satu faktor masyarakat mendesaknya kembali maju bersama Fitri Zamzam. Figur pemuda yang selalu peduli dan mendukung aktifitas anak-anak muda dalam berkarya dan berkreatifitas. Fitri Zamzam juga adalah sosok yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Baik melalui komunitas MGR, partai NasDem maupun kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Fitri Zamzam SSos MAP lahir di Kandangan, 15 Mei 1957. Suami Megawati SPd ini tinggal di Jl A Yani No.1A Kelurahan Guntung Paikat Banjarbaru. Ayah tiga orang anak ini adalah mantan PNS kantor Pertanahan pada 1980-2012. Anggota DPRD Kota Banjarbaru periode 2014-2019 ini dikenal organisatoris. Selain memimpin partai NasDem, ia juga apernah menjadi Sekretaris Ormas Nasional Demokrat pada 2012-2013. Pada 2008-2013 ia juga didaulat memimpin Percasi. Dan sejak 1978 hingga sekarang, lelaki yang akrab disapa Dewa Pahuluan ini juga dikenal sebagai Presiden Komunitas MGR. Ruzaidin Noor dan Fitri Zamzam maju dalam kancah politik Pilkada 2015 sebagai pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Banjarbaru 2016-2021. Dengan tagline berKARYA untuk PERUBAHAN, pasangan yang juga dikenal dengan 2D (Dodot-Dewa) ini bercita-cita mewujudkan Banjarbaru Kota Insan Humanis (Industri, Jasa dan Perdagangan yang Harmonis, Unggul, Mandiri dan Dinamis). [] Tim Ruzaidin Center](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9hkL0lauEZZ0pmdSvy57WLvPAsE9gYcdhy3YhzYNNTbUK6wzuFNkJBknwqPdAVDnWLQhum-ZHiupTOcLFz3LNIu8ScdvFylqC3WAdPUhK4UYn7mN-XZ-mw0C-AlQaybt5Cj6YTaqZAw8/s640/Visi-Misi-Ruzaidin-Noor-dan-Fitri-Zamzam-untuk-Banjarbaru-Lebih-Baik.jpg)
![HEBOH..!!! Jika Terpilih, Calon Walikota Banjarbaru ini Bakal Menaikan Insentif Guru, Honorer, RT dan RW Besar-besaran SUNGAI BESAR - Cuaca siang kemarin yang begitu panas, tidak menyurutkan semangat ratusan warga Bumi Cahaya Bintang Sei Besar untuk menyambut calon pemimpin yang sejuk HM Ruzaidin Noor dan Fitri Zamzam. Setibanya di tempat acara, atas inisiatif undangan masyarakat pasangan Calon Walikota Banjarbaru dan Calon Wakil Walikota Banjarbaru periode 2016-2021 nomor Urutt 2 dan beserta rombongannya, langsung menyalami ratusan warga yang hadir pada saat itu. Dalam acara tersebut hadir juga Tim kerja pemenangan 2D calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru. Selanjutnya, beberapa tokoh dengan sejumlah warga yang lebih banyak di dominasi kaum hawa menyempatkan diri untuk mendengar, menyimak agenda program kerja jika pasangan calon no urut 2 terpilih dalam masa bakti 2016-2021. Dalam Menanggapi berbagai aspirasi masyarakat, Bpk Ruzaidin noor jika diamanahkan melanjutkan kepemimpinan akan memprioritaskan apa yang menjadi kehendak masyarakat setempat yang juga merupakan perhatian bagi warga dalam menjalankan pemerintahan di Kota Banjarbaru. Tak ketinggalan pula seorang pendobrak perubahan, Fitri Zamzam atau di sapa akrab Dewa Pahuluan. Pada orasi sebelumnya telah menyampaikan bahwa di akhir jabatan Bpk Ruzaidin Noor telah berhasil menaikan insentif untuk Ketua RT/RW menjadi 500rb /bulan. Hal tersebut sudah di ketok pada rapat Perubahan Anggaran DPRD Banjarbaru. Begitu juga peranan bagi seorang GURU PAUD di Kota Banjarbaru dalam perubahan anggaran juga mengalami hal serupa dari 300rb menjadi 400rb besaran insentif. Lebih jauh Fitri Zamzam memandang, peranan guru PAUD merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang harus di perhatikan khususnya di kota Banjarbaru. Selain mencerdaskan pembangunan usia dini juga dapat membentuk perilaku akhlak yang lebih baik. Untuk itu jika pasangan HM.Ruzaidin dan Fitri zamzam terpilih memimpin Banjarbaru pada masa bakti 2016-2021 akan terus menaikan insentif. Karena hal ini sesuai dengan visi misi program prioritas kerja pasangan calon no 2 nomor 11. Dimana hal tersebut menjadi agenda untuk di laksanakan dengan kekuatan 15 anggota dewan tergabung 4 partai pendukung HM Ruzaidin dan Fitri Zamzam, siap memperjuangkan peningkatan tunjangan kinerja aparatur sipil, gaji honorer, dan menaikan insentif RT RW , GURU PAUD, GURU TPA. []](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIObvHXo6t3VGXIlSodVdYRdzQwwKRx6leEU07wx9hstct9nLmGSBYrREmxUjQLJUC2TgCqXu5OAHqetcAeM9wFez1oS-foaSoKW2bILVgIlBapyPCmexH5BT87Xs6UiQoeoeA3i6WjRI/s640/Silaturahmi-Ruzaidin-Noor-dan-Fitri-Zamzam-di-Komp-Bumi-Cahaya-Bintang-Sei-Besar-Banjarbaru.jpg)





